Anda sering melihat graffiti atau mural
yang ada di dinding bawah fly over perempatan Kuningan Jakarta Selatan? Mungkin
hanya sedikit orang yang tahu bahwa pembuatan graffiti dan mural di perempatan
Kuningan itu difasilitasi oleh Dinas Pertamanan setempat
Tulisan dan gambar pada
pilar-pilar di perempatan Kuningan ini bukanlah asal bikin. Sebab, sebelum
“beraksi”, para bomber terlebih dahulu menjalani diskusi serta brainstorming
yang cukup panjang. Lihat saja mural berjudul “Taman Kota” yang menampilkan dua
anak kecil yang saling berangkulan di antara gedung-gedung, seakan-akan mereka
tengah kebingungan ke mana mencari taman untuk sekadar bermain. Atau
graffiti bertuliskan “Boneka! Metropolis” yang mudah diinterprestasikan sebagai
bentuk kritik terhadap para penguasa yang gemar mempermainkan orang. Sebab, di
atas tulisan yang dibuat dengan cat semprot tadi ada citraan beberapa sosok
orang yang dikondisikan seperti boneka lengkap dengan tali penariknya.
Istilah graffiti sendiri
diambil dari bahasa latin “graphium”
yang artinya “menulis”. Awalnya, istilah ini dipakai oleh para arkeolog untuk
mendefinisikan tulisan-tulisan pada bangunan kuno bangsa Mesir dan Romawi kuno.
Kegiatan graffiti sebagai sarana menunjukkan ketidakpuasan baru dimulai pada
zaman Romawi dengan bukti adanya lukisan sindiran terhadap pemerintahan di
dinding-dinding bangunan. Lukisan ini ditemukan di reruntuhan Kota Pompeii.
Sementara di Roma sendiri graffiti dipakai sebagai alat propaganda untuk
mendiskreditkan pemeluk agama Kristen yang pada zaman itu dilarang kaisar.
0 komentar:
Posting Komentar